11.7.09

Mengisi Liburan Dengan Audiensi

“ Pak, liburan kemana aja, “ tanya Ardi Rizki Yanto, salah seorang siswa saya lewat facebook. Saya menjawabnya dengan enteng, ” Wah, Ar, akhir tahun semester ini bapak ndak liburan ke mana-mana,” Persoalannya bukan tidak ingin liburan namun rupanya situasi belum mengijinkan.

Ada beberapa agenda yang ternyata harus saya lakukan di musim libur tahun ini. Selain ikut menjadi Panitia Penerimaan Peserta Didik (PPDB) di sekolah, Agupena, salah satu organisasi di mana saat ini saya mencurahkan segala pikiran dan energi memiliki gawe yang cukup penting untuk eksistensi organisasi kini dan yang akan datang. Audiensi dengan Dinas Provinsi Jawa Tengah telah dilaksanakan dengan baik saat sebagian orang asyik menikmati liburan.

Dan, rencana mau liburan di akhir ternyata juga tidak terlaksana karena pada tanggal 24 Juni 2009 mendapat kiriman SMS (short message service) dari Ketua Umum Agupena Pusat untuk mengikuti Audiensi Agupena dengan Sesditjen PMPTK (Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependikan). Audiensi yang terkandung maksud melakukan silaturahmi itu sekaligus ingin menyampaikan informasi kegiatan Agupena selama ini kepada PMPTK. Seperti yang telah diketahui bahwa Agupena, muncul pertama kali digagas oleh orang nomor satu di PMPTK saat itu (baca: Dr. Fasli Jalal, Ph.D) tahun 2006. Sehingga ada semacam ikatan batin yang kuat antara Agupena dengan PMPTK.

Alhamdulillah, saya bersama Pak Sawali dapat memenuhi undangan Ketua Umum Agupena Pusat tersebut. Akhirnya, Kamis, 9 Juli 2009 pukul 07.45 saya telah berada di kantin Depdiknas menanti acara yang diagendakan pukul 10.00 itu. Sambil menunggu saya memesan teh hangat sambil membaca koran mencari berita siapa presiden terpilih. Sekira 20 menit kemudian datanglah Mr. Sawali menghampiri saya yang sebelumnya menanyakan via sms posisi saya di mana. Ngobrol ngaler-ngidul pun tak terhindarkan mulai membahas agenda audiensi, rencana program Lomba Blog Guru Nasional sampai sampai hiruk pikuk persoalan pendidikan di tanah air.

Setelah 30 menit berdiskusi itu, Pak Achjar (Ketua Umum Agupena) menyampaikan via ponsel bahwa rombongan dari Agupena Pusat telah berada di basement dan akan meluncur ke lantai 16 gedung D, di mana Sesditjen PMPTK berada. Akhirnya kami bertemu di ruang masuk lift dan bersama-sama naik lift sambil bercanda. Tiba di lantai 16 gedung D, ternyata rombongan dari Jatim telah menunggu dan jadilah pertemuan itu sebagai ajang silaturahmi. Selanjutnya kami dipersilakn masuk di ruang tunggu dan rupanya Ketua Agupena Jabar masih dalam perjalanan karena terjebak macet.

Setelah menunggu sekira 15 menit sambil mendengarkan arahan Ketua Umum Pusat, tepat pukul 09.00 s.d. 10.00 WIB kami bertemu dengan Sesditjen PMPTK, Bapak Ir. Giri Suryatmana, di ruang kerjanya. Oh, rupanya Pak Giri ini sosok yang ramah, tangkas dan kepenak untuk diskusi.

Ketua rombongan, Mr. Acjar Chalil menyampaikan bahwa Agupena sebagai organissai profesi dalam ikut memajukan pendidikan dan meningkatkan profesionalisme guru di bidang kepenulisan lebih banyak dengan aksi ketimbang sekedar orasi. Statement beliau ini ternyata mendapat tanggapan positip dari Sesditjen PMPTK tersebut.

“Kami dari PMPTK menyambut gembira keberadaan Agupena. Kami juga sudah memprogramkan berbagai pelatihan pemanfaatan ICT untuk kepentingan pembelajaran kepada para guru di seluruh tanah air. Kaitannya dengan dunia kepenulisan, memang sudah saatnya para guru memanfaatkan internet sebagai media untuk berekspresi. Agupena provinsi hendaknya bisa bekerja sama dengan LPMP (Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan) yang ada di daerah untuk melaksanakan program-programnya,” kata Pak beliau dengan lugas.

Merespon pernyataan Sesditjen, Ketua Umum Pusat mengemukakan bahwa Agupena jateng akan mengadakan program unggulan Tahun 2009 untuk mengenalkanguru pada dunia kepenulisan melalui blog/web. Selanjutnya, saya dan Pak Sawali diminta mempresentasikan rencana program itu. Berdasarkan proposal yang telah disusun, Lomba Blog Guru dan Temu Bloger Guru se-Indonesia Tahun 2009) diperuntukkan bagi seganap guru di seluruh tanah air untuk memacu kreatifitas dan unjuk kemampuan dalam pengelolaan blog selama ini yang notabene akan meningkatkan kemampuan menulis. Lomba ini dirangkai dengan Temu Bloger Guru Nasional dengan tujuan ikut memperingati Hari Guru Nasional 2009. Muaranya dapat meningkatkan profesionalisme guru akan pentingnya pemanfaatan blog sebagai media dan sumber belajar yang menarik dan menyenangkan.

Rupanya presentasi saya dan Pak Sawali disambut antusias oleh Pak Sesditjen dengan menyatakan, “ Sungguh, ini program yang bagus dan PMPTK sangat mendukung. Karena ke depan, para guru harus mengakrabi internet dan blog sebagai media pembelajaran sehingga paradigma guru tidak lagi sebagai satu-satunya sumber belajar, bahkan tak jarang bersikap seperti diktator (jual diktat, beli motor),” ungkapnya. Beliau mengharapkan Agupena dapat ikut mengubah pola pikir yang selama ini menghinggapi para guru bahwa ketika belajar gurulah yang berkuasa dan penentu. Menurut beliau harus dicipatakan suasana pemebalajarn yang memberdayakan siswa dengan seluruh potensinya. Masih menurut beliau, setiap siswa itu unik sehingga perlu difasilitasi agar potensinya dapat berkembang secara maksimal.

Diskusi dan perbincangan rupanya harus segera diakhiri karena Pak Giri sudah ada agenda lain yang menantinya. Yang menarik sampai menjelang berakhirnya audiensi, Ketua Agupena Jabar masih belu m muncul dan baru kelihatan batang hidungnya ketika kami dan Pak Giri berphoto bersama.

Kejadian menarik berikutnya ketika selesau audiensi dan kami melanjutkan konsolidasi membahas organissai Agupena, tiba-tiba Bang Achjar berbicara, “Bolehkah Ketua Umum Agupena Pusat memberikan instruksi kepada Agupena Provinsi?” tanyanya. Kami menjawab serempat boleh-boleh saja, termasuk saya dengan enteng.
“Baik! Kami menginstruksikan, untuk pelaksanaan Rakernas 2009, Agupena Jawa Tengah yang menjadi panitia dan tuan rumah!” lanjut lelaki paruh baya itu sambil menyerahkan berbagai draf kepada saya. Sejenak saya tertegun, kok kenapa harus Jateng, tidak DKI, Jabar, Jatim, DIY atau yang lainnya. Namun, karena saya harus loyal kepada pimpinan organisasi maka saya katakan, “ Siap kerjakan, Lajutkan” dan hadirin pun tertawa dengan ciri khasnya masing-masning.

Rupanya acara belum berhenti dan dilanjutkan dengan omong-omong tentang organisasi selama ini dan prosfeknya di masa yang akan datang. Akhirnya kami berpindah tempat ke ruang rapat Dirjen karena kebetulan tiga orang pengurus pusat dari unsur pembina hadir yaitu Bapak Sholeh Dhimyati (Ketua Dewan Pembina), Ridwan Mias (Anggota Dewan Pembina) dan Ibu Iim Halimah (Bendahara Umum).

Tak dinyana Rakor itu membahas hal-hal yang sensitif di tubuh organisasi terutama kepemimpinan Pimpinan Pusat dibawah Bapak Achjar Chalil. Kami dari pengurus wilayah mengikuti secara cermat sekaligus mengetahui bahwa Agupena memang ingin menjadi organisasi yang profesional, egaliter, demokratis dan terus membangun semangat kebersamaan. Saya sempat mengusulkan agar the rule of game dari Agupena semakin disempurnakan agar menjadi pegangan yang kuat di tingkat pusat, wilayah maupun daerah. Usul saya direspon dan akan dibahas secara tuntas dalam Rakernas yang diagendakan bulan Desember di Semarang. Acara Rakor berlangsung dengan lancar, penuh canda tawa dan kadang saling memberikan masukan atau kritikan satu sama lain.

Akhirnya acara yang dinantikan tiba, makan siang bersama. Pak Achjar mengajak kami makan siang di kantin Depdiknas dan acara makan pun berjalan dengan penuh keakraban dan semakin memperat hubungan antarpengurus satu dengan yang lainnya. Kami bebas memilih menu apa saja, ada sop buntut, sop daging, bakso dan yang lainnya sesuai selera nusantara. Dalam batin saya, oh ini mungkin liburan saya tahun ini, makan bersama dengan pengurus Agupena yang latarbelakangnya berbeda-beda. Pak Achjar dari Aceh, Pak Ridwan Mias dari Bengkulu, Bu Chusnul dari Jatim dan yang lain dari Jawa. Liburan tidak harus dimaknai dengan pergi ke pantai, pegunungan atau tempat rekreasi ansich, tapi juga kegiatan yang dapat membuat kita bahagia, fresh dan segar. Makan bareng di kantin Depdiknas itu saya rasakan sebagai suasana yang menyenangkan.

Selepas makan siang dilanjutkan shalat dzuhur berjamaah di Masjid Depdiknas dan rencana melanjutkan perjalanan ke kantor SEAMOLEC (Southeast Asian Ministers of Education Regional Open Learning Centre) yang berada di Kompleks Universitas Terbuka dengan membutuhkan waktu untuk perjalanan selama 2 jam.

Tiba, di kantor SEAMOLEC itu kami disambut oleh Bapak Ith Vuthy, M.Sc., M.A. seorang direktur progaram yang berasal dari Vietnam dan menarinya beliau lancar banget menggunakan bahasa Indonesia. Setelah Pak Ith mengucapkan selamat datang dan memberikan sambutana, kami disuguhi informasi tentang seputar SEAMOLEC oleh Bapak Timbul Pardede. Menurutnya, di bawah kepemimpinan DR. Ir. Gatot Hari Priowirjanto, SEAMOLEC yang dibentuk berdasarkan kerja sama 11 Menteri Pendidikan Asia Tenggara (Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailan, Timor-Leste, dan Vietnam) ini berupaya untuk memajukan kerjasama di pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan di Asia Tenggara.

Masih menurut Pak Timbul yang berasal dari Batak, sudah banyak program yang dilakukan SEAMOLEC selama ini. Visi yang diemban yaitu menjadi pusat keahlian secara terbuka dan belajar jarak jauh yang mengemban misi untuk melayani satu juta orang klien menjelang 2010 dalam upaya membantu negara-negara anggota untuk mengidentifikasi masalah kependidikan dan menemukan alternatif pemecahannya. Salah satu di antaranya adalah mendekatkan guru di berbagai jenjang dan tingkat pendidikan terhadap multi-media pembelajaran berbasis ICT.

Saat tanya jawab, saya langsung menyampaikan rencana Lomba Blog Guru dan Temu Bloger se-Indonesia Tahun 2009 dan sekaligus memohon untuk kerja sama secara sinergis dengan SEAMOLEC dalam kegiatan itu, terutama berkaitan dengan pengadaan media ICT (laptop) sebagai hadiah lomba.

“Kemungkinan itu sangat terbuka,” jawab Pak Timbul Pardede. “Tapi, mengapa lomba blognya tidak diperluas dalam lingkup yang lebih luas hingga negara-negara anggota SEAMOLEC bisa mengikutinya?” lanjut Pak Pardede bertanya.

“Iya, ini tantangan bagi Agupena! Mengapa tidak?” sahut Pak Achjar Chalil.

Hmm … menarik juga tantangan ini. “Namun, karena lomba blog untuk guru tingkat nasional itu sudah diprogramkan, ada baiknya buat proposal baru untuk agenda berikutnya dengan event yang lebih luas,” sela Pak Vuthy. “Berikan saja proposalnya untuk kami tindaklanjuti,” lanjutnya. Sementara itu, Agupena Jawa Barat dan Jawa Timur berupaya menjalin kerja sama dengan SEAMOLEC di bidang pendidikan dan pelatihan (Diklat) pemanfaatan media ICT untuk para guru di wilayahnya masing-masing.

Kesimpulan saya, akhir tahun ini nggak mengapa, saya tidak bisa menikmati liburan seperti tahun tahun sebelunya, namun banyak hikmah dan manfaat yang dapat dipetik untuk kelangsungan organissai Agupena di masa mendatang. Seperti pepatah bilang, “ Kepentingan umum harus didahulukan ketimbang kepentingan pribadi”. Saya yang ketiban sampur dan “dipaksa” menjadi Ketua Agupena Jateng memang harus siap dengan segala konsekuensi itu demi eksisnya organisasi ini.

Semoga harapan semua pihak bahwa Agupena Jateng dapat menjadi wadah yang bermakna dan bermanfaat bagi kemajuan pendidikan serta peningkatan profesionalisme guru dapat terwujud ketika motto membangun semangat berbagi telah mulai dirasakan. Dukungan dari berbagai pihak pun selama ini alhamdulillah terus mengalir.

Terima kasih Sesditjen PMPTK, Direktur Seamolec, LPMP Jateng, Dinas Pendikan Provinsi Jateng, Pimpinan Suara Merdeka, Penerbit Asta Aji Pustaka, para Kadinas Kabupaten/Kota dan seluruh pengurus Agupena baik pusat, wilayah maupun daerah atas jalinan kerjasama dan upaya membangun semangat berbaginya


Selengkapnya...

6.6.09

Email Prita Mulyasari Bikin Heboh

Inilah isi lengkap email Prita Mulyasari yang dimuat di surat pembaca detik pada Sabtu, 30/08/2008 11:17 WIB dengan judul RS Omni Dapatkan Pasien dari Hasil Lab Fiktif

Jakarta - Jangan sampai kejadian saya ini akan menimpa ke nyawa manusia lainnya. Terutama anak-anak, lansia, dan bayi. Bila anda berobat berhati-hatilah dengan kemewahan rumah sakit (RS) dan title international karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba pasien, penjualan obat, dan suntikan.

Saya tidak mengatakan semua RS international seperti ini tapi saya mengalami kejadian ini di RS Omni International. Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 20.30 WIB. Saya dengan kondisi panas tinggi dan pusing kepala datang ke RS OMNI Internasional dengan percaya bahwa RS tersebut berstandard International, yang tentunya pasti mempunyai ahli kedokteran dan manajemen yang bagus.


Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya 39 derajat. Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya adalah thrombosit saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.000. Saya diinformasikan dan ditangani oleh dr Indah (umum) dan dinyatakan saya wajib rawat inap. dr I melakukan pemeriksaan lab ulang dengan sample darah saya yang sama dan hasilnya dinyatakan masih sama yaitu thrombosit 27.000.

dr I menanyakan dokter specialist mana yang akan saya gunakan. Tapi, saya meminta referensi darinya karena saya sama sekali buta dengan RS ini. Lalu referensi dr I adalah dr H. dr H memeriksa kondisi saya dan saya menanyakan saya sakit apa dan dijelaskan bahwa ini sudah positif demam berdarah.

Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau izin pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa. Keesokan pagi, dr H visit saya dan menginformasikan bahwa ada revisi hasil lab semalam. Bukan 27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisa dilakukan revisi?). Saya kaget tapi dr H terus memberikan instruksi ke suster perawat supaya diberikan berbagai macam suntikan yang saya tidak tahu dan tanpa izin pasien atau keluarga pasien.

Saya tanya kembali jadi saya sakit apa sebenarnya dan tetap masih sama dengan jawaban semalam bahwa saya kena demam berdarah. Saya sangat khawatir karena di rumah saya memiliki 2 anak yang masih batita. Jadi saya lebih memilih berpikir positif tentang RS dan dokter ini supaya saya cepat sembuh dan saya percaya saya ditangani oleh dokter profesional standard Internatonal.

Mulai Jumat terebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang setiap suntik tidak ada keterangan apa pun dari suster perawat, dan setiap saya meminta keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Lebih terkesan suster hanya menjalankan perintah dokter dan pasien harus menerimanya. Satu boks lemari pasien penuh dengan infus dan suntikan disertai banyak ampul.

Tangan kiri saya mulai membengkak. Saya minta dihentikan infus dan suntikan dan minta ketemu dengan dr H. Namun, dokter tidak datang sampai saya dipindahkan ke ruangan. Lama kelamaan suhu badan saya makin naik kembali ke 39 derajat dan datang dokter pengganti yang saya juga tidak tahu dokter apa. Setelah dicek dokter tersebut hanya mengatakan akan menunggu dr H saja.

Esoknya dr H datang sore hari dengan hanya menjelaskan ke suster untuk memberikan obat berupa suntikan lagi. Saya tanyakan ke dokter tersebut saya sakit apa sebenarnya dan dijelaskan saya kena virus udara. Saya tanyakan berarti bukan kena demam berdarah. Tapi, dr H tetap menjelaskan bahwa demam berdarah tetap virus udara. Saya dipasangkan kembali infus sebelah kanan dan kembali diberikan suntikan yang sakit sekali.

Malamnya saya diberikan suntikan 2 ampul sekaligus dan saya terserang sesak napas selama 15 menit dan diberikan oxygen. Dokter jaga datang namun hanya berkata menunggu dr H saja.

Jadi malam itu saya masih dalam kondisi infus. Padahal tangan kanan saya pun mengalami pembengkakan seperti tangan kiri saya. Saya minta dengan paksa untuk diberhentikan infusnya dan menolak dilakukan suntikan dan obat-obatan.

Esoknya saya dan keluarga menuntut dr H untuk ketemu dengan kami. Namun, janji selalu diulur-ulur dan baru datang malam hari. Suami dan kakak-kakak saya menuntut penjelasan dr H mengenai sakit saya, suntikan, hasil lab awal yang 27.000 menjadi revisi 181.000 dan serangan sesak napas yang dalam riwayat hidup saya belum pernah terjadi. Kondisi saya makin parah dengan membengkaknya leher kiri dan mata kiri.

dr H tidak memberikan penjelasan dengan memuaskan. Dokter tersebut malah mulai memberikan instruksi ke suster untuk diberikan obat-obatan kembali dan menyuruh tidak digunakan infus kembali. Kami berdebat mengenai kondisi saya dan meminta dr H bertanggung jawab mengenai ini dari hasil lab yang pertama yang seharusnya saya bisa rawat jalan saja. dr H menyalahkan bagian lab dan tidak bisa memberikan keterangan yang memuaskan.

Keesokannya kondisi saya makin parah dengan leher kanan saya juga mulai membengkak dan panas kembali menjadi 39 derajat. Namun, saya tetap tidak mau dirawat di RS ini lagi dan mau pindah ke RS lain. Tapi, saya membutuhkan data medis yang lengkap dan lagi-lagi saya dipermainkan dengan diberikan data medis yang fiktif.

Dalam catatan medis diberikan keterangan bahwa bab (buang air besar) saya lancar padahal itu kesulitan saya semenjak dirawat di RS ini tapi tidak ada follow up-nya sama sekali. Lalu hasil lab yang diberikan adalah hasil thrombosit saya yang 181.000 bukan 27.000.

Saya ngotot untuk diberikan data medis hasil lab 27.000 namun sangat dikagetkan bahwa hasil lab 27.000 tersebut tidak dicetak dan yang tercetak adalah 181.000. Kepala lab saat itu adalah dr M dan setelah saya komplain dan marah-marah dokter tersebut mengatakan bahwa catatan hasil lab 27.000 tersebut ada di Manajemen Omni. Maka saya desak untuk bertemu langsung dengan Manajemen yang memegang hasil lab tersebut.


Saya mengajukan komplain tertulis ke Manajemen Omni dan diterima oleh Og(Customer Service Coordinator) dan saya minta tanda terima. Dalam tanda terima tersebut hanya ditulis saran bukan komplain. Saya benar-benar dipermainkan oleh Manajemen Omni dengan staff Og yang tidak ada service-nya sama sekali ke customer melainkan seperti mencemooh tindakan saya meminta tanda terima pengajuan komplain tertulis.

Dalam kondisi sakit saya dan suami saya ketemu dengan Manajemen. Atas nama Og (Customer Service Coordinator) dan dr G (Customer Service Manager) dan diminta memberikan keterangan kembali mengenai kejadian yang terjadi dengan saya.

Saya benar-benar habis kesabaran dan saya hanya meminta surat pernyataan dari lab RS ini mengenai hasil lab awal saya adalah 27.000 bukan 181.000. Makanya saya diwajibkan masuk ke RS ini padahal dengan kondisi thrombosit 181.000 saya masih bisa rawat jalan.

Tanggapan dr G yang katanya adalah penanggung jawab masalah komplain saya ini tidak profesional sama sekali. Tidak menanggapi komplain dengan baik. Dia mengelak bahwa lab telah memberikan hasil lab 27.000 sesuai dr M informasikan ke saya. Saya minta duduk bareng antara lab, Manajemen, dan dr H. Namun, tidak bisa dilakukan dengan alasan akan dirundingkan ke atas (Manajemen) dan berjanji akan memberikan surat tersebut jam 4 sore.

Setelah itu saya ke RS lain dan masuk ke perawatan dalam kondisi saya dimasukkan dalam ruangan isolasi karena virus saya ini menular. Menurut analisa ini adalah sakitnya anak-anak yaitu sakit gondongan namun sudah parah karena sudah membengkak. Kalau kena orang dewasa laki-laki bisa terjadi impoten dan perempuan ke pankreas dan kista.

Saya lemas mendengarnya dan benar-benar marah dengan RS Omni yang telah membohongi saya dengan analisa sakit demam berdarah dan sudah diberikan suntikan macam-macam dengan dosis tinggi sehingga mengalami sesak napas. Saya tanyakan mengenai suntikan tersebut ke RS yang baru ini dan memang saya tidak kuat dengan suntikan dosis tinggi sehingga terjadi sesak napas.

Suami saya datang kembali ke RS Omni menagih surat hasil lab 27.000 tersebut namun malah dihadapkan ke perundingan yang tidak jelas dan meminta diberikan waktu besok pagi datang langsung ke rumah saya. Keesokan paginya saya tunggu kabar orang rumah sampai jam 12 siang belum ada orang yang datang dari Omni memberikan surat tersebut.

Saya telepon dr G sebagai penanggung jawab kompain dan diberikan keterangan bahwa kurirnya baru mau jalan ke rumah saya. Namun, sampai jam 4 sore saya tunggu dan ternyata belum ada juga yang datang ke rumah saya. Kembali saya telepon dr G dan dia mengatakan bahwa sudah dikirim dan ada tanda terima atas nama Rukiah.

Ini benar-benar kebohongan RS yang keterlaluan sekali. Di rumah saya tidak ada nama Rukiah. Saya minta disebutkan alamat jelas saya dan mencari datanya sulit sekali dan membutuhkan waktu yang lama. LOgkanya dalam tanda terima tentunya ada alamat jelas surat tertujunya ke mana kan? Makanya saya sebut Manajemen Omni pembohon besar semua. Hati-hati dengan permainan mereka yang mempermainkan nyawa orang.

Terutama dr G dan Og, tidak ada sopan santun dan etika mengenai pelayanan customer, tidak sesuai dengan standard international yang RS ini cantum.

Saya bilang ke dr G, akan datang ke Omni untuk mengambil surat tersebut dan ketika suami saya datang ke Omni hanya dititipkan ke resepsionis saja dan pas dibaca isi suratnya sungguh membuat sakit hati kami.

Pihak manajemen hanya menyebutkan mohon maaf atas ketidaknyamanan kami dan tidak disebutkan mengenai kesalahan lab awal yang menyebutkan 27.000 dan dilakukan revisi 181.000 dan diberikan suntikan yang mengakibatkan kondisi kesehatan makin memburuk dari sebelum masuk ke RS Omni.

Kenapa saya dan suami saya ngotot dengan surat tersebut? Karena saya ingin tahu bahwa sebenarnya hasil lab 27.000 itu benar ada atau fiktif saja supaya RS Omni mendapatkan pasien rawat inap.

Dan setelah beberapa kali kami ditipu dengan janji maka sebenarnya adalah hasil lab saya 27.000 adalah fiktif dan yang sebenarnya saya tidak perlu rawat inap dan tidak perlu ada suntikan dan sesak napas dan kesehatan saya tidak makin parah karena bisa langsung tertangani dengan baik.

Saya dirugikan secara kesehatan. Mungkin dikarenakan biaya RS ini dengan asuransi makanya RS ini seenaknya mengambil limit asuransi saya semaksimal mungkin. Tapi, RS ini tidak memperdulikan efek dari keserakahan ini.

Sdr Og menyarankan saya bertemu dengan direktur operasional RS Omni (dr B). Namun, saya dan suami saya sudah terlalu lelah mengikuti permainan kebohongan mereka dengan kondisi saya masih sakit dan dirawat di RS lain.

Syukur Alhamdulilah saya mulai membaik namun ada kondisi mata saya yang selaput atasnya robek dan terkena virus sehingga penglihatan saya tidak jelas dan apabila terkena sinar saya tidak tahan dan ini membutuhkan waktu yang cukup untuk menyembuhkan.

Setiap kehidupan manusia pasti ada jalan hidup dan nasibnya masing-masing. Benar. Tapi, apabila nyawa manusia dipermainkan oleh sebuah RS yang dipercaya untuk menyembuhkan malah mempermainkan sungguh mengecewakan.

Semoga Allah memberikan hati nurani ke Manajemen dan dokter RS Omni supaya diingatkan kembali bahwa mereka juga punya keluarga, anak, orang tua yang tentunya suatu saat juga sakit dan membutuhkan medis. Mudah-mudahan tidak terjadi seperti yang saya alami di RS Omni ini.

Saya sangat mengharapkan mudah-mudahan salah satu pembaca adalah karyawan atau dokter atau Manajemen RS Omni. Tolong sampaikan ke dr G, dr H, dr M, dan Og bahwa jangan sampai pekerjaan mulia kalian sia-sia hanya demi perusahaan Anda. Saya informasikan juga dr H praktek di RSCM juga. Saya tidak mengatakan RSCM buruk tapi lebih hati-hati dengan perawatan medis dari dokter ini.

Salam,
Prita MulyasariAlam Sutera

Selengkapnya...

24.5.09

SISWANDI, BUKAN SEORANG GURU BIASA

Siswandi, seorang guru sekaligus kepala sekolah ini, merupakan salah satu Pembina Agupena Jawa Tengah. Beliau lahir di sebuah desa yang sepi, pada tanggal 4 Juni 1959, tepatnya di desa Kaliori Kecamatan Kalibagor Kabupaten Banyumas. Ayahnya bernama Hadi Aswan (Mantan Guru) dan ibunya Suprihatin. Menurut ibunya, Siswandi saat lahir memiliki tubuh yang amat kecil dan kurus sehingga sering dijuluki seekor kucing kecil. Anak kedua dari delapan bersaudara (empat orang meninggal dunia) ini memiliki semangat kepenulisan yang luar biasa dan perlu ditiru oleh segenap keluarga besar Agupena.

Berlatih Menulis
Siswandi mulai belajar menulis artikel saat beliau sudah masuk semester dua di SPG (Sekolah Pendidikan Guru) Muhammadiyah Purwokerto. Awal konsep ditulis tangan, setelah itu diketik di balai desa Kaliori atau meminjam mesin ketik milik SD Kaliori 1. Biasanya beliau mengetik pada hari Sabtu sore sampai Minggu siang.

Konon, mengetik naskah selembar saja harus menghabiskan waktu hampir dua jam. Setelah naskahnya selesai, kemudian beliau kirimkan ke Redaksi SKM Jakarta dengan perangko biasa sebesar Rp 50,00 kala itu.

Menurut penuturannya, “ Entah berapa puluh naskah yang dikirimkan ke Redaksi Suara Karya Minggu (SKM), namun tak pernah terpampang tulisannya , di setiap edisi terbaru.” Beliau juga rajin menulis puisi, artikel remaja dan gambar vignette, tetapi berbulan-bulan tetap tak ada satu pun tulisannya yang dimuat.

Dengan kenyataan tersebut, teman dekat sekolahnya, Bambang sempat berujar” Buat apa kirim tulisan terus kalau tidak dimuat. Sudah payah, pusing, uang untuk beli perangko melayang sia-sia. Untuk beli bakso jelas ada gunanya.” Mendengar kata-kata temannya itu, Siswandi sungguh merasa sedih dan sakit. Beliau katakan, “ Seperti ditusuk ribuan jarum.”

Namun, bukan Siswandi namanya kalau harus patah semangat. Dia terus menulis dan menulis sampai akhir kelas 3 SPG. Namun rupanya dewi portuna masih belum mau menghampirinya, sehingga sampai kelas 3 SPG itu tidak ada satu pun naskah yang dimuat. Sekali lagi beliau tidak putus asa dan sempat terhibur ketika mendapat informasi melalui kontak pembaca SKM bahwa setiap minggunya ada sebelas ribu naskah yang masuk ke redaksi SKM dan berarti banyak teman lainnya yang ditolak dan memiliki nasib yang sama.

Akhirnya Siswandi banting setir, karena gagal terus di SKM, memilih untuk berlatih mengarang menggunakan bahasa Jawa. Beliau menulis dongeng untuk koran berbahasa Jawa, namanya Parikesit yang diterbitkan di Solo. Rupanya dari sini debut kepenulisan Siswandi dimulai, ketika naskah dongengnya dimuat dalam satu halaman penuh. Betapa bahagianya Siswandi kala itu dan mendapat honor sebesar Rp 500,00 (lima ratus rupiah) yang setara dengan harga bakso lima mangkuk. Dia pun mendapat uacapan selamat dari keluarga dan teman-temannya.

Kesuksesan pertama ternyata menjadi pendorong Siswandi untuk terus menulis. Selanjutnya beliau menulis lagi beberapa dongeng yang dikirim ke Majalah Jawa Penyebar, hasilnya naskahnya kembali dimuat dan selanjutnya setiap naskah yang dikirim ke Parikesit pun hampir setiap minggu dimuat.

Debut Kepenulisan
Bakat dan kemampuan kepenulisan Siswandi terus diasah, termasuk ketika pertama kali mendapat tugas sebagai guru SD di tempat terpencil, tepatnya SD Negeri Cikakak 4 (6 KM jalan kaki dari ibukota kecamatan). Di rumah dinas guru, Siswandi menghabiskan masa mudanya untuk mengajar siswa sekaligus mengembangkan kepenulisanya di tempat yang sepi dan sunyi. Mengingat di sekolahnya belum ada mesin ketik, maka Siswandi membuat konsep tulisan tangan untuk kemudian diketik di rumah. Beliau merencanakan kalau sudah mendapat gaji pertama akan membeli mesin ketik.

Bulan pertama, Siswandi berhasil menyelesaikan cerita bersambung bahasa Jawa dengan judul Ati Kang Keri (Hati yang Tertinggal). Cerita itu dimuat secara bersambung di koran Mingguan Jawa Parikesit. Koran itu oplahnya besar karena hampir semua SD di Jawa Tengah dijatah untuk berlangganan.

Naskah Siswandi akhirnya sering muncul dan membuat honornya semakin banyak. Sebelum rapel gaji beliau terima, sudah berhasil membeli mesin ketik merk fish yang harganya Rp 27.000,00 pada awal tahun 1980. Honor penulisannya datang silih berganti dari berbagai penerbitan. Konon beliau tidak pusing lagi masalah keuangan karena belum gajian pun duitnya masih banyak.

Tempat mengajarnya yang sunyi dan terpencil itu seolah membawa hoki tersendiri, karena dari sana lahir berbagai karya Siswandi. Inspirasinya terus mengalir dan mengalir bagaikan air sungai. Aktifitasya mengajar dan mengetik naskah. Sampai tiba saatnya, SKM yang dulu selalu menolak tulisan beliau, akhirnya luluh tak berdaya dan mau menerbitkan karyanya.

Sejak itulah Siswandi mulai dikenal dan menjadi pembicaraan orang banyak terutama di wilayah Wangon. Hampir setiap minggu rekan sejawatnya membaca tulisan beliau. Sebagian honor tulisannya digunakan untuk mentraktir makan bakso teman-temannya dan jalan-jalan ke Purwokerto.

Siswandi, dari Lomba ke Lomba
Setelah sukses menulis di media, Siswandi yang telah lama menjadi guru mencoba peruntungannya untuk mengikuti lomba. Beliau mulai mengikuti lomba atas desakan Kepala Dinas Pendidikan Wangon saat itu tahun 1992. Waktu itu ada pengumuman lomba mengarang cerita anak berbahasa Jawa yang diadakan oleh Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Akhirnya dewi fortuna itu mau mendekatinya, dengan judul naskah Langite Hiru Resik (Langit Biru Bersih) berhasil menjadi pemenang pertama setelah menunggu pengumuman selama 3 bulan. Hadiahnya berupa Tabanas sebesar gaji selama satu bulan ditambah trophy.

Tahun berikutnya, Siswandi megikuti lomba yang sama dan berhasil menjadi juara dua. Menurut beliau, “ Saya senang membaca majalah Jawa sejak SMP”. Sehingga menjadi modal tersendiri dalam memenangkan perlombaan.

Tahun 1993 Siswandi kembali mengikuti lomba dan kali ini lomba mengarang guru tingkat nasional. Awalnya dia tidak mau iku karena merasa kurang percaya diri ketika dari Bayumas belum ada satu pun guru yang berhasil menjadi pemenang.

Bukan Siswandi namanya kalau tidak mencoba, Akhirnya, Siswandi menulis karangan yang berjudul Pelangi di Atas Taman Hati. Dan sungguh menggembirakan, karyanya masuk final 6 besar dan harus ikut bertanding di final yang diadakan di Jakarta dan akan dibuka langsung oleh Mendikbud kala itu, Prof Dr Ing Wardiman Djojonegoro.

Rupanya Siswandi memang bukan guru biasa, dia kembali menunjukkan kemampuannya dengan menggondol juara ketiga Lomba Mengarang Guru Tingkat Nasional dengan membawa pulang throphy dan Tabanas senilai Rp 600,000 padahal gajinya waktu itu hanya Rp 275.000 ditambah uang transport dan jalan-jalan ke tempat rekreasi secara gratis.

Kerinduan untuk meraih juara selalu membuat Siswandi makin bersemangat mengikuti lomba mengarang. Pada bulan Maret 1994, beliau mendapat brosur tentang Sayembara Penulian Naskah Buku bacaan dari kantor Depdikbud Kecamatan Wangon. Semangat menulis Siswandi memang tiada duanya, saat itu beliau langsung menulis naskah buku dan membutuhkan waktu 3 hari untuk menyelesaikannya. Naskah kali ini diberi judul Lambaian Seribu Bunga dan lagi-lagi Siswandi beruntung karena berhasil menjadi juara ketiga dengan hadiah sebesar Rp 750.000.

Setahun meraih Tiga Gelar Juara
Tak puas dengan prestasi yang telah dicapai, Siswandi terus mengikuti lomba. Tahun 1995 beliau mengikuti lagi sayembara penulisan naskah buku bacaan dengan pilihan buku bacaan fiksi SD. Dengan menulis cerita mengambil setting perkampungan nelayan dengan tokoh utamanya Gunawan dan diberi kudul Senandung Ombak. Untuk karya kali ini berhasil mendapat juara harapan kedua dengan hadiah Rp 1.000.000,00

Boleh jadi, tahun 1995 itu menjadi tahun keberuntungan bagi Siswandi karena berhasil menggaet juara sampai tiga kali berturut-turut. Selain juara harapan nasional, juga masuk nominasi Provinsi Jawa Tengah dan mendapat hadiah Rp 1.250.000.00 ditambah juara kedua mengarang cerita anak berbahasa jawa tingkat provinsi Jawa Tengah.

Keberuntungan Siswandi berikutnya, buku Seandung ombak tak lama kemudian terbit dan Siswandi mendapat royalty Rp 5.400.000,00 Menurut penuturannya, “ Dengan satu buku itu saya bisa membangun dapur keramik, kamar mandi dan ruangan tingkat 2 ukuran 3 X 6 meter”.

Masih banyak prestasi kepenulisan beliau yang lain yang berhasil diraih. Saking banyaknya, maka penulis akhiri sampai di sini.

Ibroh yang dapat dipetik adalah menulis merupakan keterampilan yang perlu diasah dan dikembangkan terus menerus. Sosok Siswandi ini barangkali bisa menjadi spirit bagi kita untuk terus belajar menulis.

Selamat untuk Pak Siswandi atas capaian prestasinya. Dan terima kasih atas kesediaanya untuk berbagi dan menjadi pembina Agupena Jawa Tengah. ***


Selengkapnya...

Template by : kendhin x-template.blogspot.com